023122. PINTU JIBRIL :
Duduk dan berdzikir menanti waktu isya terasa lama, sementara keinginan hajat kecil tak tertahan, ahirnya lahan yg diupayakan sepanjang sore ditinggalkan, namun baru sampai dipintu keluar suara iqamat isya berkumandang.
Malam itu saya tersingkir dari sekitar raudhah kepintu masuk mesjid Nabawi dan harus puas bersembahyang isya dibawah ambang pintu keluar, Allahhuakbar.
Hari berikutnya alhamdulillah saya sdh bisa sembahyang magrib diraudhah, "bapak baru sekali ya masuk raudhah", tanya jemaah sebelah yg ternyata orang Bugis.
Dia mafhum kalau saya orang baru masuk ke raudhah, dicirikan dari isak tangisnya. "Saya sdh yg ke4 kali pak, besok sore saya berangkat ke Mekah, kalau mau keraudhah lagi bangun jam 3.00, insyaallah dpt masuk".
Teman sekamar mulai ber-bisik2 dan ahirnya sepakat bangun jam 3.00 utk berangkat sembahyang subuh diraudhah, tak lupa memberi sedekah kpd penjaga pintu maktab dg doa minta tiket keraudhah.
Dari pintu luar menjid, kelihatan pintu masih tertutup, kami berlari kecil diatas marmer yg dingin dan begitu melihat lagi kepintu Jibril, ternyata telah terbuka lebar, kami dpt langsung masuk dan berada beberapa shaf dibelakang raudhah.
Dg beberapa sholat sunat dan beberapa salam kpd jemaah yg ada didepan shaf ahirnya saya bisa masuk ke raudhah, sebut saya karena teman saya sdh tdk terlihat lagi ada dimana, belakangan setelah pulang kemahtab ternyata dia juga dpt masuk dan sembahyang pardhu subuh diraudhah, Alhamdulillah.
Malam itu saya tersingkir dari sekitar raudhah kepintu masuk mesjid Nabawi dan harus puas bersembahyang isya dibawah ambang pintu keluar, Allahhuakbar.
Hari berikutnya alhamdulillah saya sdh bisa sembahyang magrib diraudhah, "bapak baru sekali ya masuk raudhah", tanya jemaah sebelah yg ternyata orang Bugis.
Dia mafhum kalau saya orang baru masuk ke raudhah, dicirikan dari isak tangisnya. "Saya sdh yg ke4 kali pak, besok sore saya berangkat ke Mekah, kalau mau keraudhah lagi bangun jam 3.00, insyaallah dpt masuk".
Teman sekamar mulai ber-bisik2 dan ahirnya sepakat bangun jam 3.00 utk berangkat sembahyang subuh diraudhah, tak lupa memberi sedekah kpd penjaga pintu maktab dg doa minta tiket keraudhah.
Dari pintu luar menjid, kelihatan pintu masih tertutup, kami berlari kecil diatas marmer yg dingin dan begitu melihat lagi kepintu Jibril, ternyata telah terbuka lebar, kami dpt langsung masuk dan berada beberapa shaf dibelakang raudhah.
Dg beberapa sholat sunat dan beberapa salam kpd jemaah yg ada didepan shaf ahirnya saya bisa masuk ke raudhah, sebut saya karena teman saya sdh tdk terlihat lagi ada dimana, belakangan setelah pulang kemahtab ternyata dia juga dpt masuk dan sembahyang pardhu subuh diraudhah, Alhamdulillah.
Komentar
Posting Komentar